Bulan dan Bintang jadi Saksi

Posted on April 18, 2007. Filed under: Cerpen |


Bulan dan Bintang jadi Saksi

 

Create by : Dika Ananta Dasuarto

Write type : Scenario

Date : 23 July 2002

Saran penulis : Dengarkan semua lagu yang ada di cerita ini, agar bisa menikmati cerita.

 

(Jakarta pagi hari, Senin yang mulai sibuk. Barangkalali semua orang bad mod, hanya satu orang barang kali yang sedang happy. Kita kenal kan tokoh cerita bernama Leo. Dengan dandanan rapi pakai dasi, bernyanyi-nyanyi kecil sambil mengendarai mobil civic tua. Lagu yang paling dia sukai bernada riang, Rif – Lo To Yee)

 

Rif- Lo Toe Ye

 

Cinta mu kok bikin acik

Gaya lo kok bikin acik

Wah lo kok bikin acik

Dandanan lo bikin acik-acik

 

Bicara lo bikin hati

Siulan lo bikin hati

Nafas lo kok bikin hati

Lo acik gue makin hati

aaaaa….

 

Lirikan mu awas hati

Senyuman lo wau hati

Asli ye gue hati

Lihatin lo kok hati hati

 

Bicara lo bikin hati

Siulan lo bikin hati

Nafas lo kok bikin hati

Lo acik gue hati hati

 

Lo to gaya lo emang keren

Lo to lagak lucu dan keren

Lo to tampang lo keren

Tapi otak lo kagak lo pakai

 

Lo to gaya lo emang keren

Lo to lagak lucu dan keren

Lo to tampang lo keren

Tapi nafsu lo yang elo pakai

 

Lalalala….

 

 

(Mobil sudah mengarah ke sebuah lampu merah. Macet seperti biasa melanda. Lampu hijau, jalan terus. Ups…tiba-tiba melintas pedagang asongan dengan santai. Hampir tertabrak. Leo merem mendadak dan akibatnya….Brakkkk! Mobilnya tertabrak dari belakang.)

 

(Leo menghentikan mobilnya. Dan masak bodok dengan trang-tring bunyi klakson. Dia pengen memeriksa kerusakan mobilnya. Kaca lampu mobil belakang pecah, dan bampernya penyok dan rusak. Leo melihat ke mobil yang di belakangnya. Seorang gadis cantik yang bertampang panik. Leo mendekatinya)

 

Leo : Maaf non, kamu menabrak mobil saya.

Tia : Maafkan saya, kamu yang salah, kenapa merem mendadak.

Leo : Non, dimana-mana yg menabrak yang salah. Kalau saya tak merem, saya akan menabrak orang. Kenapa kamu lengah. Saya minta ganti. Turunlah.

Tia : Ngak mau. Kamu yang salah.

 

(Leo habis kesabarannya dia membentak)

Leo : Turun!

Tia : Tidak!

 

(keributan pun berlangsug. Seorang polisi lalu lintas datang menghampiri)

 

Polisi : Pak, silahkan minggirkan dulu mobilnya. Nanti dibicarakan disana.

Leo : Baik pak. Tapi pak tolong jangan sampai wanita ini kabur.

Polisi : Siap pak. Bu…silahkan minggir kesana. Diselesaikan disana urusannya.

 

(Kedua mobil itu jalan ke seberang dan meminggirkan mobilnya. Pak Polisi menengahi urusan itu. Berungtung si Leo di bela oleh Bapak Polisi itu. Setelah pak polisi memeriksa surat-surat mobil dan izin mengemudi, urusannya di serahkan ke masing-masing pihak)

 

Tia : Jadi saya harus mengganti berapa?

Leo : Saya tak tahu. Biar adil saya akan membawa mobil saya ke bengkel dan semua biayanya anda yang menanggungnya. Saya minta KTP anda.

Tia : Kok KTP, kartu nama saya saja.

Leo : Oh ngak bisa. KTP adalah jaminan saya agar anda ngak lari.

Tia : Saya tak akan lari. Percayalah.

Polisi : Sudah lah bu, kasih saja KTP nya.

 

(Urusan untuk sementara selesai. Semua kembali jalan. Leo terlambat ke kantor. Dia suruh driver kantor mengantarkan mobilnya ke benkel. Leo mulai bekerja seperti biasa. Dia teringat akan KTP. Oh…dia belum tahu nama wanita itu).

 

Leo : Oh…Mutia Rahmadani SE MBA….wau keren… cantik lagi. Bob…sini deh.

Bob : Apa leo? Oh…KTP, KTP siapa?

Leo : Ini KTP anak yang menabrak mobil saya.

Bob : Mobilnya rusak juga ngak?

Leo : Lecet sedikit. Mobil saya yang hancur.

Bob : Wau…Leo…cantik sekali. Apa dia seorang model?

Leo : Mana gue tahu, tapi kayaknya dari keluarga borju. Kayaknya kaya banget, mobilnya aja BMW.

Bob : Hah? Kaya dong man…

Leo : Ya gitulah…

Bob : Ya udah…pacarin aja. Jadiin bini lo.

Leo : Enak aja deh kalo lo ngomong. Emang nya gue co matre apa.

Bob : Dari pada lo kayak gini terus. Berhenti dong main. Berlabuhlah man. Lo udah tua… tahu ngak? Udah deh…lupakan saja yang lalu. Berhenti bersedih dan berhenti bermimpi.

Leo : Enak aja bilang gue tua. Adu panco yuk. Siapa kalah dia yang traktir makan siang.

Bob : Ayuk…tapi lo bakal kalah, lo udah kepala 3 gue masih 2. Kuatan gue dong. Ngak nyesal?

Leo : Nyesal? Dalam kamus hidup gue ngak ada kata nyesal. Kalah menang biasa jack. Dunia kan memang harus bersaing. Gue tantang lo di dapur.

 

(Suasana didapur, seorang office boy sedang bikin kopi. Ada meja tempat biasa staf makan siang. Seorang wanita keluar dari toilet dan mampir di dapur. Namanya Siska temanya Leo. Setelah itu datang Pak Amir yg berkaca mata tebal sambil bawa map segepok dan pengen nambah minum air mineral di tabung)

 

Siska : Ada apa nih, pagi-pagi tegang banget.

Leo : Si Bob nantanging gue panco.

Siska : Asiik…bakal ada yg traktir makan siang nih

Pak Amir: Panco? Saya mau jadi wasit.

Bob : Ayuk…

Leo : Mulai…1, 2, 3

 

(Pertandinganpun di mulai. Bob yakin bakal menang. Karena arah tangan sudah berat ke badannya. Tapi Leo masih bertahan. Keringat pun mengalir. 1 menit, 2 menit. Tapi tak rebah juga. Dan tanpa di duga Bob, Leo mulai menarik nafas dan tangannya bergerak dengan cepat. Dan dia tak menyangka kuat sekali si Leo. Dia pun menyerah. Pertandingan selesai).

 

Siska : Hore…Leo yayang gue menang. Asikk…rasain lo Bob, makanya jadi orang jangan tekabur. Bodok ah…yang penting makan siang. Traktir gue juga ya Bob.

Bob : Ok deh…gue kalah. Ngomong-ngomong kok lo bisa kuat gitu Leo.

Leo : Makanya olah raga. Jangan olah raga di ranjang melulu. heheheh

Siska : Nah lo…ketahuan belang si Bob. Jajan ya? Hehehehe.

Bob : Sttsss…anak kecil ngak boleh tahu.

Pak Amir: Bob, kamu ngak tahu si Leo kan sering latihan Yoga sama ibu Sri.

Bob : Ah… masak, ya Leo? Wah asik juga…pantas lo di sayang Bos. Boleh ikut ngak?

Leo : Ikut aja…ngak ada yg larang. Tapi sekarang udah jarang Bob. Ibu Sri sibuk melulu. Saya latihan sendiri di rumah.

 

(Udin yang Office boy datang)

 

Udin : Mas Leo, di panggil Ibu Sri.

Leo : Oh ok…makasih Din. Yuk..kerja lagi.

 

(Semua orang mulai sibuk, dan hari berjalan seperti biasa. Waktu makan siang tiba. Suasana di kantin disebelah gedung cukup rame. Di salah satu meja ada 4 orang. Leo, Bob, Siska dan Doni. Mereka sedang makan siang.)

 

Bob : Tuh anak yang nabrak udah telepon kamu belum Leo?

Leo : Belum, mungkin dia sibuk, paling nanti sore.

Bob : Dia kasih kartu nama ngak selain KTP.

Leo : Ada.

Bob : Coba lihat

 

(Leo mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan KTP dan sebuah kartu nama cantik dari plastik berwarna ungu)

 

Bob : Wau…keren man…Manager bo…

Siska : Mana? Coba lihat?

Doni : Coba lihat KTP nya mas Leo.

Leo : Ini ambil, tapi jangan kotor.

Doni : Perasaan saya pernah lihat dia. Duh dimana ya… kayaknya pernah deh. Saya lupa. Hmmm..

Leo : Oh kamu kenal?

Doni : Kenal ngak sih. Tapi saya pernah lihat dia. Ups…saya ingat. Dia yang pernah menampar muka teman saya.

Leo : Oh ya? Dimana?

Doni : 3 bulan lalu di DJ diskotik Tanah Abang.

Leo : Gara-gara apa?

Doni : Teman saya saat itu sedang mabuk. Lagi disco, trus dia iseng memegang pantat tuh ce yang sedang jojing di sebelahnya.

Bob : Hah? Heheheheh….trus-trus…

Doni : Ya dia marah…trus di tampar nya deh teman gue. Habis tuh ce bodynya sexy banget. Merangsang banget. Cakep dan putih lagi.

Siska : Rasain deh lo. Makanya tuh mata di pelihara. Jangan sembarangan. Itu namanya pelecehan sexual. Untung teman lo ngak diaduin ke polisi.

Leo : Oh dia sering main kesana ya?

Doni : Ngak tahu juga sih. Gue jarang main kesana, gue biasanya ke 1001 di Gajah Mada.

Leo : Waktu itu dia joget sama siapa?

Doni : Sama teman ce nya dan ada co lainnya yang gue kira pacarnya.

Leo : Oh ya…hmmm…ok deh…makasih infonya. Yuk balik. Bob…bayar…

Siska : Asikkk….

 

(Waktu merangkak terasa pelan. Maklum hari Senin. Disemua kantor pasti begitu. Tapi tidak bagi Leo. Dia terlalu sibuk menghadapi kerjaan yang menumpuk. 4 hari dia cuti untuk pulang kampung karena ibunya sakit. Yang didapat bukan ibunya yang sakit. Tapi ibunya yang kangen berat sama dia. Dan Leo paling malas pulang. Paling hanya saat lebaran. Dia malas di cerewetin ibunya soal jodohnya. Sudah beberapa kali ibunya menyodorkan foto wanita pilihan ibunya. Satu pun tak ada yang dia suka. Dia tak mau di jodohkan. Dia bersiteguh, cintanya pasti sedang menunggu di tempat lain, dan dia sedang mencari dan mencari)

 

(Jam 3 Sore. Driver yang memperbaiki mobil ke bengkel sudah kembali. Dan mobilnya sudah bagus kembali. Dia lihat kwitansi. Semua 500 ribu rupiah. Sangat mahal. Leo kening berkerut. Apa itu anak mau menggantinya? Pikiran itu yang ada di benaknya)

 

(Jam 4 sore telepon berdering di meja Leo. Itu dari Tia pemilik KTP itu dan gadis yang menabraknya tadi)

 

Leo : Ya…sudah selesai. Semuanya lima ratus ribu, Tia.

Tia : Oh ya…kok mahal amat?

Leo : Kalau kamu ngak percaya tanya ke bengkelnya saja. Saya ada kwitansinya nih.

Tia : Ok deh…, kapan kamu antar KTP saya?

Leo : Mau diantar kemana? Rumah apa kantor?

Tia : Hmm… Rumah saja. Datang jam 8 malam. Saya tunggu.

Leo : Alamat rumahnya?

Tia : Alamatnya persis sama di KTP itu. Datang saja. Gampang kok mencarinya.

Leo : Ok deh…saya harap kamu ada di rumah jam segitu. Uangnya ada kan nanti?

Tia : Adalah…jangan khawatir.

Leo : Ok deh…byee..

 

(Leo menutup telepon, membaca alamat di KTP, dia berpikir…hmmm..Pondok Indah)

 

 

(Jam 5 sore Leo sudah pulang kantor. Mandi. Makan sedikit, kemudian setelah sholat magrib dia pun berangkat ke rumah Tia. Jam 8 kurang 10 menit dia menemukan rumah itu. Leo jadi kagum banget. Rumahnya berpagar tinggi. 2 tingkat dan seorang pembantu membukakan pintu. Disamping rumah yang bisa melihat kebelakang ada kolam renang. 3 mobil berjejer. Dan dia perhatikan mobil BMW yang tadi menabrak dia. Oh…sudah mulus kembali setelah selesai diperbaiki. Saat dia duduk di teras rumah, seorang gadis cantik keluar dengan rambut yang basah sehabis mandi. Baju u can see berwarna terang menampakan keindahan tubuhnya. Sungguh cantik dan alami sekali. Leo menundukan mukanya. Tak sopan memandang berlama-lama. Mereka bersalaman)

 

Tia : Silahkan duduk. Saya minta maaf karena telah menyusahkan. Maafkan kata-kata yang tadi ya.

Leo : Oh…tidak apa-apa. Sebenarnya saya yang salah. Merem mobil dengan mendadak. Itu reflek sih. Kalau ngak begit, anak pedagang asongan itu tertabrak. Dan itu malah fatal buat saya.

Tia : Oh…lupakan saja soal itu. Saya juga saat itu sedang melamun. Lagi bete aja. Maklum hari senin. Saya mesti manggil apa nih, Mas, Abang? Namanya siapa?

Leo : Mas juga boleh… atau panggil nama saja juga ngak apa-apa. Nama saya Leo.

Tia : Oh saya Tia. Kerja dimana? Bagian apa?

Leo : Saya seorang arsitex, saya kuli biasa kok. Kerja di consultan property.

Tia : Oh…bagus dong…pasti jago menggambar.

Leo : Ah…biasa aja. Tia yang bagus. Masih mudah udah jadi manager.

Tia : Oh jangan salah. Itu perusahaan keluarga. Om saya yang punya. Tak ada yang perlu dibanggakan.

Leo : Bergerak di bidang apa?

Tia : Export

Leo : Export apa?

Tia : Macam-macam sih, tapi bisnis intinya furniture.

Leo : oh ok…bagus dong…penghasil dolar…

Tia : Ya gitulah…kalau lagi dolar naik, kita untung gede, bila turun…rugi deh…hehehehe…

 

(pembantu bernama bik Inah datang bawa 2 gelas minuman)

Bik Inah: Ini minumnya Non…

Tia : ya…makasih bik, minum mas Leo…

Leo : ya…makasih.

Tia : Berapa tadi? Boleh saya lihat kwitansi nya?

Leo : Oh ini…semuanya 500 ribu.

Tia : Hmm…ini saya bayar.

Leo : Makasih…dan ini KTP nya…dan kartu namanya.

Tia : Kartu namanya ambil saja. Sebagai kenangan. Mas Leo punya kartu nama?

Leo : Hmm…ada…bentar….Ini…

Tia : Makasih…

Leo : Mobil Tia udah di servise juga ya. Kena berapa duit?

Tia : 800 ribu.

Leo : Loh kok mahal sekali?

Tia : Ngak tahu deh. Itu bengkel langganan Om saya. Tapi asuransi yang bayar kok. Tenang aja.

 

(Pembicaran berlangsung sekitar 15 menit, tak lama kemudian Leo permisi pulang. Tak enak berlama-lama di rumah orang. Dia senang. Ternyata anak ini baik hati. Dan ngak sekeras seperti pagi tadi. Sampai dirumah semua kembali seperti semula. Dan Leo pun melupakan kejadian di Senen itu. Dia pun kembali dengan kesendiriannya. Tak pernah berkhayal sedikitpun untuk menjadi teman anak itu apalagi jadi pacarnya. Dia tahu diri. Saat pulang ke rumah Radio di mobilnya sedang mendendangkan lagu PADI – MAHADEWI.)

 

MAHADEWI – Padi

 

Hamparan langit maha sempurna

Bertatah bintang-bintang angkasa

Namun satu bintang yg perpijar

Teruntai turun menyapaku

 

 

*)Ada tutur kata terucap

Ada damai yang kurasakan

Bila sinarnya sentuhlah aku

Kepedihanku terhapuslah

 

Alam raya pun semua tersenyum

Menunduk dan memuja hadirnya

Terpukau aku menatap wajahnya

Aku merasa mengenal dia

 

Tapi ada entah dimana

Hanya hatiku mampu menjawabnya

Mahadewi resapkan nilainya

Pencarian ku usai sudah

 

Ooo….

Back to *)

 

Mahadewi resapkan nilainya

Mahadewi tercipta untukku

 

(Leo berguman dalam hati…duh…andai dia Mahadewi ku…)

(3 bulan waktu berlalu. Suasana di sebuah café. Di suatu malam Minggu di Jam’s Café. Ada pentas musik jazz oleh artis dari Amerika. Leo datang di undang temannya. Music Jazz berganti-ganti dimainkan. Dia duduk bertiga sama temannya (Andi) yang membawa pacarnya (Lia). Leo datang sendiri. Bereka bercakap-cakap di hiruk pikuknya musik. Sesekali Leo memandang tamu-tamu yang duduk, hilir mudik dan yang baru datang. Sangat ramai, maklum penggemar Jazz sangat banyak termasuk dia)

 

Andi : Leo, lo punya ngak kaset penyanyi Jazz itu?

Leo : Ngak tuh. Saya hanya sesekali mendengar lagi Jazz. Saya sih ngak fanatik Jazz. Biasa ajalah. Saya jarang beli kaset, apalagi CD. Paling dengarin Radio atau download lagu MP3 di internet.

Andi : Oh ya? Lo suka musik apa dong?

Leo : Saya dari dulu suka classic.

Andi : Oh sama dong sama Lia. Ya Lia…kamu suka classic kan?

Lia : Ya…suka banget.

Andi : Leo…Lia kan jago main Piano.

Leo : Oh ya….saya paling suka melihat ce main piano. Kapan-kapan undah dong kerumah pengen lihat kamu main.

Lia : Boleh…datang saja sama mas Andi.

Leo : Oh …makasih…nanti deh..

 

(Waktu terus berjalan. Tiba-tiba mata Leo tersentak kaget. Ada ce berbaju warna cream datang bergandengan sama seorang Co. Sungguh cantiknya. Co nya juga ganteng. Dan nampak masih muda sekali. Yang bikin dia kaget, itu ce adalah si Tia, anak yang menabraknya dulu. Sepertinya itu anak sedang mencari bangku kosong buat duduk. Ruangan sudah hampir penuh. Dan bangku kosong hanya 1 tersisa di tempat dia. Leo memperhatikan Tia dari jauh. Dan timbul rasa kasihan. Leo pun mendekati Tia dan menawarkan tempat duduknya.)

 

Leo : Hello Tia… masih ingat saya?

Tia : Oh…Mas Leo, pa khabar? Kok ngak pernah telepon sih?

Leo : Baik…Telepon? Ah…malu lah saya. Belum dapat duduk kan? Mau ngak duduk di meja saya?

Tia : Kok malu? ….Ya nih…oh… ada? Dimana?

Leo : Oh ada… tuh disana?

Tia : Ah ngak ah…ada orang nya.

Leo : Ngak apa-apa. Itu teman saya sama pacarnya. Saya datang sendiri. Kami hanya bertiga.

Tia : Oh ..ok…makasih…Yuk Alex…

Tia : Mas Leo…kenalkan ini adik saya…Alex

Leo : Hmm…mat kenal Alex…saya Leo

Alex : (senyum-senyum kecil) Ya mas…saya Alex …adiknya Mbak Tia

 

(Mereka duduk dalam satu meja. Leo pun memperkenalkan teman-temannya. Tentunya Leo telah mendapatkan satu bangku kosong)

 

Tia : Mas Leo sombong deh…tak pernah telepon saya. Padahal kan ada kartu nama saya.

Leo : Bukannya ngak mau telepon. Pengen sekali…tapi saya malu.

Tia : Kok malu sih? Tahu ngak mas…saya pengen banget telepon mas dan pengen tahu keadaan Mas dan mobilnya. Tapi kartu nama Mas hilang. Saya sudah pusing mencarinya. Saya tak mengira kita ketemu disini. Masih ada lagi kartu namanya? Minta lagi dong…please…

Leo : Hm…hilang ya…saya kira kamu tak ingat sama saya. Ini …ambil deh. Dan simpan baik-baik ya…

Tia : Makasih…

Tia : Ini adik saya Alex baru pulang dari Amrik. Dia telah selesai kuliah disana. Dan pengen kerja disini.

Leo : Oh ya…ambil jurusan apa?

Alex : Bisnis management.

Tia : Ya…papa yang nyuruh. Bila dia sudah balik saya bisa pergi lagi.

Leo : Pergi? Pergi kemana?

Tia : Saya mau kuliah lagi. Mau ambil master. Saya capek kerja dan udah bosan di JKT. Pengen ke amrik lagi. Mau cuci mata lagi. Hehehe.

Leo : Hehehe. Cuci mata kok jauh. Apa disini ngak ada co cakep?

Tia : Co cakep sih banyak. Tapi yang di sukai susah didapat. Ada satu yang di sukai… eh…dia malah menghilang.

Leo : Oh …ya…anak mana? Kok dia bisa menghilang? Apa dia ngak suka kamu? Masa wanita secantik kamu ngak mau tuh co. Bego banget kali dia.

Tia : Upss… Mungkin bukan bego kali. Namun suasana saja yang ngak memungkinkan dia dan saya untuk bisa bersama. Soalnya dia tak tahu saya menyukai dan mengagumi dia. Dan saya pun tak tahu apakah dia menyukai saya.

Leo : Hmm…oh gitu…kasihan juga ya…

 

(Leo dan Tia sama-sama menunduk setelah mata mereka beradu pandang. Sesekali di alihkan ke panggung. Namun ada perasaan aneh mengalir di hati Leo. Dia coba menahannya. Dan Tia sesekali mencuri pandang. Tia melihat tangan Leo yang terletak di atas meja. Pengen sekali dia meremasnya. Tapi dia malu. Dia semakin kagum sama lelaki ini, sangat sopan dan wajahnya…duh…cakep sekali. Pengen banget dia dipeluk. Sejak dia bertemu, perasaan aneh menjalar di tubuhnya dan dia masih mengingat saat kejadian tabrakan itu).

 

Tia : Mas Leo…boleh nanya ngak?

Leo : (terkaget dari lamunannya). Nanya apa? Silahkan aja. Ngak dilarang kok. (Leo tersenyum manis, senyum yg menggetarkan jantung Tia).

Tia : Mas Leo sudah bekeluarga?

Leo : Maksudnya menikah? Belum tuh… ngak laku-laku…hehehehe.

Tia : Ah masak? Benar Mas Andi?

Andi : Napa? Oh… ya…Leo masih single kok. Perjaka lapuk…hehehehe…

Tia : Oh…usianya udah berapa Mas? Kalau belum menikah pasti udah punya pacar dong?

Leo : hmm…33. Ngak kok… ngak punya pacar. Kalau punya, saya ngak akan datang sendiri ke sini. Hehehe…

Tia : Ah masak sih? Mas Leo kan cakep, pasti banyak yang suka.

Leo : Hmmm…makasih di bilang cakep. Ngak tahu deh…mungkin kamu aja yang bilang saya cakep. Saya biasa aja kok. Kalau saya cakep pasti banyak ce yg naksir saya. Buktinya ngak ada. Tanya Andi deh.

Andi : Ups…bukannya ngak ada yg naksir. Tapi Leo aja yang suka menjauh dari ce. Bila ada yg naksir, Leo nya ngak suka. Terlalu milih Tia. Hehehe…Tak tahu deh…ce macam apa yg dia suka. Tanya aja sendiri. Tapi menurut saya…si Leo sukanya ce kayak kamu Tia?

Leo : (Leo mukanya merah karena malu) Andi…mulai ya…

Tia : Ayo apa Mas Leo…wanita apa yang mas sukai?

Leo : (diam …sambil senyum-senyum kecil)

Leo : Duh…susah menjawabnya.

Tia : Ayo dong Mas…ngak usah malu-malu.

Leo : Entahlah…(Leo menarik nafas panjang). Saya sendiri bingung mengatakannya. Dia selalu ada dimimpi-mimpi saya. Tapi saya tak bisa ungkapkan. Dia manis, cantik. Tapi bukan kecantikannya yang paling saya suka. Saya suka suara indahnya. Kepribadiannya yang menarik, cerdas, keras, pintar, mandiri, sangat penyayang, kulitnya yg putih dan senyumnya duh…ampun deh. Dia pendiam bila dilihat sekilas, dan sangat suka menyendiri. Tapi bila telah kenal dia…duh…anaknya ribut banget. Dia sangat menyukai musik, pintar main piano dan hobby nya ada satu yang saya suka.

Tia : Apa itu Mas?

Leo : Dia suka menanam bunga dan punya seokor kucing kesayangan.

Tia : Hmm…lengkap sekali? Itu di mimpi atau dikhayalan Mas Leo?

Leo : Hehehe….di khayalan sih. Tapi belum ketemu orangnya.

Tia : Tapi saya ngak pernah menanam bunga, menyiramnya sih iya. Saya punya seokor kucing. “Puput” namanya. Saya juga menyukai musik, dan saya bisa main piano. Tapi kulit saya ngak putih-putih amat, dan saya ngak punya suara indah. Gimana dong….saya ngak termasuk dong. (Tia senyum-senyum kecil)

Leo : Hehehe… itu kan hayalan. Mana ada manusia yang sempurna. Lagian kulit kamu putih kok, dan suara mu juga bagus. Apalagi bila marah. Ingat ngak saat itu…hehehe….(Leo tertawa kecil).

Tia : (Tia wajahnya di cemberutkan dan dia merajuk, dan sponton mencubit lengat Leo). Hmm…mas Leo jahat… Yang lama-lama ngak usah di ungkit dong.

Leo : Hehee…sory…just kidding….hehehe….Gadis secantik Tia siapa sih yang bakal suka. Saya…hmm…

Tia : Saya? Saya apa Mas?

Leo : Ah ngak ah…malu…

Tia : Kok malu sih mas…jujur aja. Ngak maling ini…kenapa mesti malu.

Leo : Hmm…saya sebenarnya suka sekali sama kamu. Tapi saya tahu kamu seorang gadis cantik. Gadis cantik seperti kamu peminatnya pasti banyak. Saya sadar… saya hanya bisa mengagumi kamu. Saya tak akan menang bersaing. Saya…

Tia : Stop! …Stop! Mas jangan teruskan. Saya tahu arahnya kemana. Mas jangan pesimis. Dan mas jangan menebak-nebak dong.

Leo : Memang benar kok…bukan menebak.

Tia : Mas Leo ini gimana sih. Kita pernah sekali ketemu dan bicara banyak baru kali ini. Banyak yang ngak Mas ketahui tentang saya. Begitu juga saya terhadap Mas. Saya juga suka sama Mas, orangnya baik hati, sopan dan tenang sekali. Saya tak tahu kepribadian Mas tapi firasat saya bilang Mas orang nya sangat menarik sekali. Saya sungguh pengen sekali kenal sama Mas. Tapi saya tak bisa menghubungi Mas.

Leo : Saya sebenarnya juga pengen kenal kamu lebih jauh. Kamu gadis yang sangat menarik yang pernah saya kenal. Hidup saya mungkin dihantui masa lalu. Makanya saya sulit untuk melangkah. Saya sering gamang bila mendekati wanita. Sungguh saya takut. Banyak yang saya tak mengerti akan wanita. Makluk hidup yang sering saya kagumi tapi saya tak bisa menyelami apa yang ada dalam hati mereka. Saya mungkin sering mengecewakan. Saya … sungguh belum pantas untuk dicintai. Saya punya banyak kekurangan.

Tia : (termenung, dan mungkin mencoba mencerna arah kemana kata-kata Leo itu. Ada perasaan kasihan dan juga rasa suka yang sedemikian kuatnya. Dia terdiam…, kemudian dia menganguk-anguk tanda mengerti)

Tia : Ok lah mas Leo…saya nanti bolehkan telepon Mas?

Leo : Oh boleh…saya senang sekali itu.

 

(Pembicaraan beralih ke soal musik dan topik-topik lainnya. tepat jam 12 malam mereka pulang. Leo pulang dengan perasaan happy. Sungguh dia ngak menyesal datang ketempat itu. Dia telah dipertemukan lagi sama gadis yang di kaguminya.)

 

(Sinkat cerita, mereka pun jadi teman akrab. 3 Bulan cukup bagi Leo untuk mengenal Tia dan kehidupannya. Tia pun begitu. Mereka pun sepakat pacaran. Dan hari-hari indahpun berlangsung. Tia merasa beruntung bisa mendapatkan cinta Leo. Cinta yang benar-benar murni. Jauh dari sex. Tak seperti pacar-pacarnya selama ini, yang selalu menuntut itu. Tia merasa malu terhadap apa yang dia lakukan dulu. Hidup hanya buat senang-senang. Dia melakukan itu karena dia kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Dia merasakan kehampaan yang amat sangat di hidupnya, dan dia telah salah langkah dengan masuk ke dunia bebas bersama teman-temannya. Saat dia jujur bicara itu ke Leo, Leo sedikitpun tak berubah. Leo bilang itu adalah masa lalu, dan dia juga pernah berbuat salah seperti itu. Cinta mereka nampaknya bakal berjalan mulus. Tapi keindahan itu tak berlangsung lama. 5 Bulan setelah mereka resmi pacaran, Leo pindah kerja ke Hongkong, mengikuti bos nya yang orang bule. Dia pindah karena menemukan prospek kerjaan yang lebih bagus. Kebetulan di Indonesia sendiri sedang terjadi resesi, dan banyak arsitek yang mengganggur.)

 

(Skenario cerita tak bisa diperpanjang. Setelah Tia tahu Leo akan pindah ke Hongkong, Tia pun meneruskan lagi cita-citanya untuk kuliah ke amrik dan kebetulan Om nya membuka cabang kantor di Amrik dan Tia dipercaya sebagai bos disana.)

 

(Mereka pun berpisah disaat cinta begitu indah mereka nikmati. Dua hari sebelum keberangkatan Leo, Tia mengajak Leo ke Puncak. Mereka menyewa sebuah Villa. Dan dimalam itu mereka “menikah”, dengan disaksikan bulan dan bintang. Hasrat yang sudah sekian lama ada di hati Tia tertumpahkan juga. Leo tak bisa mengelak. Dia bukanlah seorang ustad dan dia tak bisa menahan diri untuk tak terlibat akan permainan cinta itu. Disitulah Tia sadar, dia telah benar-benar menemukan lelaki sejati. Hasrat yang telah sekian lama terpendam kini benar-benar terpuaskan. Mereka tidur dengan kenikmatan yang amat sangat. Adegan bab ini kena sensor, hanya buat perempuan dan lelaki dewasa.)

 

(Cinta pun kini di uji, saat mereka terpisahkan oleh dua benua dan dalamnya laut samudra. Tia dan Leo sepakat buat 2 tahun kedepan mereka kan berpisah. Demi cita-cita yang lebih indah. Namun apakah mereka bisa bertahan. Hanya waktu yang bisa menjawab. Sebab bagaimanapun juga pacaran jarak jauh itu tak indah.)

 

(Cerita di tutup dengan suasana Leo di apartmentnya yang berantakan di Hongkong. Leo sedang main gitar. Dibawakannya lagu JIKUSTIK – SETIA)

 

SETIA

Artis : Jikustik

 

Deras hujan yang turun

Mengingatkan ku pada dirimu

Aku masih disini

Untuk setia

 

 

*)Selang waktu berganti

Aku tak tahu engkau dimana..ooo…

Tapi aku mencoba

Untuk setia

 

Sesaat malam datang

Menjemput kesendirian ku

Dan bila pagi datang

Kutahu kau tak disamping ku

Aku masih disini untuk setia

 

Back to *)

 

—*** —

________ THE END _________

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: